Sunday, 13 September 2015

Berhenti Sejenak Di Sayyidul Istighfar


اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَإِلَهَ إِلاَّأَنْتَ, خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدِكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ, أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَاصَنَعْتُ, أَبٌوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُالذُّنُوْبَ إِلاَّأَنْتَ

Rasul Muhammad shalallahu alaihi wa sallam menyemakan nama doa tersebut dengan "Sayyidul Istighfar". Mengapa rasulullah memberikan nama demikian? Hal itu bisa dijelaskan sebagai berikut :

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ (Allahumma Anta Rabbi), adalah ikrar tauhid rububiyyah atau tauhid yang menegaskan dan menjelaskan bahwa Allah adalah rabb (tuhan) satu-satunya yang menciptat :
kan serta menjaga dunia dan seisinya.

لاَإِلَهَ إِلاَّأَنْتَ (La ilaha illa Anta), Kalimat ini adalah ekspresi atau ikrar tauhid uluhiyyah bahwa allah lah satu-satunya ilah (Tuhan) yang wajib diibadahi, dan tidak ada ilah selain Allah Subhanahu wa ta'ala.

خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدِكَ (Khalaqtani wa ana abduka). Kalimat ini adalah ungkapan tulus seorang hamba perihal Siapa (Allah) yang menciptakan nya, seraya merunduk dan merebahkan jiwa raganya kepada Allah, serta bertawakkal hanya kepada Dia.

وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ (Wa ana ala ahdika mastatha'thu). Kalimat ini adalah ungkapan atau tekad bulat seorang hamba untuk selalu beriltizam atau berkomitmen terhadappetunjuk dalam meniti jalan yang lurus demi menggapai manhaj rabbani (panduan hidup ilahi). hal itu diupayakan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada, yaitu dengan cara bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَاصَنَعْتُ (A'udzu bika ming syarri ma shana'tu). Ucapan ini mengungkapkan permohonan perlindungan seorang hamba yang sungguh-sungguh kepada Allah , dari segala perbuatan yang buruk, dari segenap mara bahaya, dan dari rupa-rupa kemaksiatan yang memungkinkan dilakukan oleh seorang hamba.

أَبٌوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ (Abu'u laka bini'matika 'alayya). Kalimat ini mengekspresikan pengakuan seorang hamba atas segenap nikmat yang telah diberikan Allah kepadanaya. Hal ini diwujudkan dengan cara menerima segala nikmat yang diberikan Allah kepadanya, baik besar maupun kecil, banyak maupun sedikit, seraya dimanfaatknya kejalan dan tempat yang diridhai-Nya, karena ia sadar bahwa segenap anugrah tersebut kelak akan dihisab oleh-Nya; darimana harta itu didapat dan kemana harta tersebut dimanfaatkan

وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي (Wa abu'u bidzanbi). Kalimat ini mengutarakan perihal kesadaran seorang hamba terhadap Rabb-nya, bahwa ia merasa sudah melakukan banyak dosa dan kekhilafan, baik disengaja maupun  tidak.

فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُالذُّنُوْبَ إِلاَّأَنْتَ (Faggghfirli fa innahu la yaghfirudz-dzunuba illa Anta). Kata-kata ini adalah ungkapan tulus seorang hamba yang memohon ampunan kepada Allah, hanya kepada Dia semata dan tidak kepada yang lain. seraya merunduk dan bersimpuh dihadapan-Nya, karena tidak ada Ilah yang layak dimintai ampunan kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Saudaraku, dengan segenap makna dan kandunagn yang agung itulah, maka Rasul Muhammad membubuhkan nama terhadap istighfar tersebut dengan "Sayyidul Istighfar" (Penghulu istighfar atau istighfar terbaik).

Semoga kita termasuk hamba Allah yang sukses dan beruntung, yang hanya beribadah kepada-Nya dan meminta tolong kepada-Nya, iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Amin ya Mujibas-Sa'ilin.
Baca selengkapnya

Sekilas Pengertian Ma'rifat


Menurut bahasa, kata ma'rifat berarti mengetahui atau mengenal. Pengertian tersebut bisa diperluas lagi menjadi : cara mengetahui atau mengenal Allah melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya yang berupa makhluk-makhluk ciptaannya. Sebab dengan hanya memperlihatkan tanda-tanda kekuasaannya kita bisa mengetahui akan keberadaan dan kebesaran allah. Kita tentu yakin dan faham betul, bahwa tidak ada satu makhluk pun, walau sekecil atau sebesar apapun, yang ada dengan sendirinya. Semuanya itu pasti ada  yang menciptakan. dan siapa lagi yang menciptakan segala macam makhluk tersebut kalau bukan Allah?

Tanda-tanda tentang aanya Allah sudah terlihat jelas terlihat disekeliling kita. Setiap hari kita bisa melihat terbitnya matahari dari ufuk timur dan kemudian tenggelam dari ufuk barat. Satu kalipun tidak pernah terbalik. Kita juga bisa melihat betapa indahnya bulan dan begitu gemerlapnya bintang-bintang yang bertaburan dimalam hari. Semua itu yang menciptakan dan mengatur peredarannya adalah Allah. Siapa yang tak mengenal allah lewat tanda-tanda kekuasaannya, ia adalah sebuta-buta manusia. bukan buta matanya, akan tetapi buta hatinya. sebagaimana telah difirmankan allah berikut ini : "Sesungguhnya bukan matanya yang buta, tapi mata hatinyalah (yang buta) yang berada dalam rongga dadanya"

Adapun cara memperhatikan tanda-tanda kekuasaan allah yang berupa makhluk-makhluk-Nya tersebut bukanlah sekedar dengan menggunakan penglihatan lahir saja. Tetapi harus pula ditunjang dengan penglihatan mata batin (hati) yang jernih dan bersih dari berbagai dosa. perhatikan sabda rasulullah kepada sahabat Abu Dzar al-Ghifari berikut ini:

يااباذرّ اعبدالله كانك تراه فاان كنت لاتراه فانه يراك
Artinya : "Wahai Abu Dzar. Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Bila kamu tidak melihat Allah, maka yakinkan (dalam hatimu) bahwa Allah melihat kamu".

Pembaca, buta mata belum tentu membawa bencana. Tetapi buta hati pasti akan mendatangkan siksa. Karena apabila manusia sudah menderita penyakit buta hati, selama ia belum mendapatkan cahaya illahi yang berupa petunjuk-petunjuk kebenaran, maka selama itu pula ia akan tersesat jalannya. Bukan menuju syurga yang ia tempuh, melainkan jalan neraka. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. AL-ISRA ayat 72 : "Dan barangsiapa yang buta (hati) di (dunia) ini, maka ia buta diakhirat nanti, dan bahkan lebih sesat jalannya".

Setelah kita mengenal dan mengetahui akan keberadaan Allah, apakah lantas pengenalan dan pengetahuan kita tersebut berhenti sampai disitu saja?. Tentu saja tidak. Akan tetapi lebih daripada itu, kita sebagai hamba-Nya dan sebagai salah satu makhluk ciptaan-Nya, maka sudah sepatutnya apabila kita senantiasa mengabdikan diri secara bulat dan utuh semata-mata demi mengharapkan keridhoan-Nya.

Salah satu tanda bagi orang yang berma'rifat kepada Allah, adalah ia senantiasa bersandar dan berserah diri kepada Allah semata. Apapun yang telah dan akan terjadi pada dirinya , selalu diterima dengan baik. Apabila ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur. Sedang apabila mendapatkan musibah, ia terima cobaan itu dengan sabar. Orang yang demikian percaya, bahwa semua itu datangnya dari Allah untuk kebaikan dirinya, sebab tidak ada sesuatupun yang terjadi didunia ini, kecuali ada manfaat atau hikamah di balik peristiwa tersebut.

Selai itu, orang yang berma'rifat kepada allah tidak pernah menyombongkan diri. sebagai makhluk yang lemah dan tanpa daya, manusia tidak bisa berbuat apa-apa keculi atas pertolongan dan izin dari allah yang maha perkasa. karna itu ia pun selalu mencarijalan untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya guna mendapatkan pertolongan, perlindungan dan karunia-nya. Sedang apapun yang dapat menghalangi jalannya untuk bertaqarrub kepada Allah ia singkirkan jauh-jauh dari lubuk hatinya, seperti sifat serakah kepada dunia, kikir, sombong riya dan berbagai sifat tercela lainnya.


Baca selengkapnya

Saturday, 12 September 2015

Beragam Lafazh Atau Teks Istighfar

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa banyak contoh dari lafazh, teks, atau redaksi istighfar. Keterangan tentang hal itu pun beragam, yang bersumber dari hadits-hadits Nabi kita yang shahih.
Seorang muslim wajib melazimkan dirinya untuk mengucapkan dan melafalkan setiap hari sebanyak mungkin. Diantaranya adalah:

رَبِّ اغْفِرْلِي, وَتٌبْ عَلَيَّ, إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ
"Ya Rabb, ampunillah aku dan terimalah taubatku, karena Engkau Maha Penerima taubat lagi maha pengampun" (H.R Tirmidzi).

أَسْتَغْفِرُاللهَ العَظِيمَ الَّذِي لاَإِلَهَ إِلاَّهُوَ, الحَيُّ القَيُّومُ, وَأَتُوبُ إِلَيهِ
"Aku beristighfar (mohon ampun) kepada Allah yang maha Agung, yang tiada Ilah kecuali Dia, yang maha Hidup lagi maha Berdiri sendiri, dan aku bertaubat kepada Mu" (H.R Abu Daud, Tirmidzi,dan Hakim. Hadits ini shahih sesuai dengan persyaratan bukhari muslim).

أَسْتَغْفِرُاللهَ وَأَتُوبُ إِلَيهِ
"Aku mohon ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepada-Nya" (H.R Bukhari Muslim).

Kita juga dianjurkan untuk beristighfar dengan istighfar terbaik, atau dikenal dengan sayyidul istighfar, yaitu:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَإِلَهَ إِلاَّأَنْتَ, خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدِكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ, أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَا صَنَعْتُ, أَبٌوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُالذُّنُوْبَ إِلاَّأَنْتَ

"Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada ilah selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada diatas janji-Mu, sesuai dengan kemampuanku.Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-Mu (yang dinugerahkan) kepadaku, dan aku juga mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena tiada yang maha mengampuni selain Engkau" (H.R Muslim).

Shighah, teks, ucapan, atau redaksi istighfar yang biasa diwiridkan dan dilafalkan oleh baginda Rasul Muhammad diatas, yang bersumber dari hadits-hadits yang shahih, kami kira sudah cukup repsentatif untuk dimasukkan dalam wirid harian anda. Tentu saja masih banyak teks lainnya yang biasa diwiridkan dan dilafalkan oleh Rasulullah. Namun maknanya kurang lebih sama engan yang telah ditampilkan di atas.

Baca selengkapnya

Beragam Pendapat Salafushshalihin Tentang Istighfar

Abu Musa radiyallahu'anhu berujar : "Ada dua hal yang dapat memberikan jaminan keamanan kepada kita dari siksa. Salah satunya telah pergi, yaitu keberadaan Rasulullah ditengah-tengah kita, dan yang tersisa adalah istighfar ditengah-tengah kita. Jika punah juga, maka binasalah kita" (Ihya' Ulumuddin, al-Ghazali, bab at-Taubah).

Imam Rabi'in bin Khutsaim berkata : "Merindukanlah kamu sekalian  kepada Rabbmu, dan berdoalah dikala kamu senang, karena Allah subhanahu wa Ta'ala berfirman (dalam hadits qudsi), 'Barang siapa yang berdoa kepada-Ku  dikala senang, maka Aku akan memberinya; barang siapa yang tawadhu' (rendah hati) kepada-Ku, maka akan mengangkat derajatnya; barang siapa yang memusatkan perhatian untuk-Ku, maka Aku akan mengasihinya; dan barang siapa yang memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya"(Minhajus-Shalihin, 159)

Imam Sahal pernah ditanya tentang hakikat istighfar yang dapat menghapuskan seluruh dosa. Ia menjawab. "Tahap pertama istighfar adalah al-istijabah, lalu al-inabah, kemudian at-taubah. Al-istijabah adalah amalan anggota tubuh, al-inabah adalah amalan hati, dan at-taubah adalah menghadapnya seseorang kepada Tuhannya (Allah), yaitu dengan cara meninggalkan makhluk. Kemudian ia beristighfar kepada Allah dari segala kekurangan yang ada pada dirinya" (Ihya Ulumuddin, al-Ghazali, bab at-taubah).

Hal yang sama juga dikatakan oleh Imam Ibnu Jauzi: "Iblis berkata, 'saya membinasakan bani Adam dengan dosa-dosa, dan mereka menghancurkanku dengan istighfar dan kalimat la ilaha illallah. Ketika aku perhatikan, mereka menjadi kokoh lantaran istighfar. Namun dalam diri mereka ada hawa nafsu, lalu mereka menyangka bahwa  mereka sudah melakukan suatu kebaikan" (Miftahu Daris Sa'adah karya Ibnu Qayyim).

Qatadah rahimahullah berkata : "Sesungguhnya al-Qur'an menunjukkan kepadamu perihal penyakitmu dan sekaligus obatnya untukmu; penyakitmu adalah kedosaan, sedang obatnya adalah istighfar".

Hal senada juga dikataka oleh imam ali karamallahu wajhah, sang menantu kesayangan rasulullah shalallahu alaihi wa sallam; "Ketahuilah bahwa ujub atau sikap membanggakan diri adalah yang menyebabkan  kehancuran bagi seseorang, tetepi ada sesuatu yang dapat menyelamatkan dari kehancuran itu." Kemudian seseorang yang ada didekatnya berujar, "Wahai Tuan, tolong jelaskan apa saja yang dapat menyelamatkan seseorang dari kehancuran?" Jawab Imam Ali: "istighfar kalian, karena itulah yang bisa menyelamatkan kalian dari kehancuran."
Pada bagian lain, ali karamallahu wajhah juga berkata : "Sungguh menherankan orang yang celaka itu, padahal ada hal yang bisa menyelamatkannya". Kemudian ia ditanya, 'apa itu?' jawabnya; 'istighfar'.

Sebagian ulama berujar: "Hamba itu berada diantara dosa dan nikmat, dan keduanya tidak akan bisa diperbaiki kecuali dengan al-Hamdulillah dan Istighfar" (at-Tadawa bil istighfar karya syaikh hasan ibnu hasan).
Diriwayatkan dari luqman alaihissalam, bahwa ia berwasiat kepada anaknya: "Duhai anakku, ketahuilah bahwa Allah mempunyai waktu-waktu dimana Dia tidak menolak orang yang meminta. maka perbanyaklah istighfar."

Diriwayatkan dari Aisyah r.a, ia berujar: "Berbahagialah orang yang didalam catatan amalnya ditemukan istighfar yang banyak."
Abu minhal juga berujar: "Tidak ada tetangga terbaik bagi seorang Mukmin didalam Quburnya kecuali istighfar."
Imam hasan al-Bashri pun berucap: "Perbanyaklah kalian istighfar dirumah-rumah kalian, ketika kalian makan, diperjalanan, dipasar, juga ketika kalain berada di majlis-majlis (ilmu), karena kalian tidak tau kapan ampunan Allah itu akan turun."
Imam Bakar Ibnu Abdullah al-Mazani berkata: "Wahai dikau yang bergelimang dosa, perbanyaklah istighfar, karena jika dalam buku catatan amal seseorang ditemukan istighfar ditengah-tengah halamannya, maka posisi itu ia akan menyenangkannya."

Sementara Ibnu Taimiyyah berujar: "Ketika pikiranku digayuti tentang suatu masalah yang gamang bagiku, maka aku beristighfar kepada Allah seribu kali sehinggan lapanglah dadaku. kemudian masalah pun terurai. Maka ketika aku berada dipasar, dimasjid, atau dimadrasah, hal itu tidak bisa mencegahku untuk berberdzikir dan istighfar, sampai aku mendapatkan apa yang kucari."
Baca selengkapnya

Monday, 7 September 2015

Istighfar Adalah Ciri Orang Beriman

source : radiosilaaturahim.com
Ketika Nabi Ibrahim alaihissalam tidak henti-hentinya mengajak sang bapak agar meniti jalan tauhid, walaupun sang bapak merespons ajakan tersebut dengan tindakan yang keji, namun ia tetap memiliki cita-cita yang tinggi. Al-Qur'an mengabadikannya dalam serangkaian ayat:

 قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا ٤٦

"Berkata bapaknya: "Bencikan kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama" (Maryam[19]:46).

Ketahuilah bahwa ucapan ini muncul setelah Nabi Ibrahim beberapa kali bermunajat kepada Allah dengan penuh kelembutan.
Ketika Nabi Ibrahim berkali-kali bertemu dengan bapaknya, namun sang bapak menerimanya dengan tindakan yang buruk dan menghardiknya dengan ucapan "la arjumannak" (niscaya kamu akan kurajam), Nabi Ibrahim terus menerus bermunajat dengan:

قَالَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُلَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيّاً ٤٧

"Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku" (Maryam[19]:47).

Maka beristighfar adalah upaya yang awal sekali yang terpikirkan oleh Nabi Ibrahim, dan istighfar ini harus dilakukan dengan intens dan serius, agar memperoleh curahan hidayah, sebagaimana yang Allah jelaskan dalam ayat:

وَمَا كَانَ اسْتَغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلاَّعَن مَّوْعَدَهَاإِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ ِللهِ تَبَرَّأ َمِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأ وَّاهٌ حَلِيمٌ

"Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka taktala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun" (At-Taubah [9]:114).

Dengan demikian, Istighfar merupakan fasilitas yang Allah anugrahkan hanya kepada orang beriman saja, dan tidak untuk selain mereka. Dengan kata lain, khusus orang-orang yang beriman saja yang dipilih oleh-Nya untuk diampuni. Karena itu, kewajiban kita adalah agar terus merawat nikmat pengampunan ini sebaik-baiknya, supaya bisa memberikan manfaat bagi agama dan dunia kita semua.

Baca selengkapnya

Sunday, 6 September 2015

Hakikat Istighfar Dan Sebab-sebabnya

Image ; Islampos.com
Ketahuilah bahwa manusia tidaklah ma'shum(terjaga) dari kesalaha dan kekhilafan, dan selalu berpotensi untuk melakukan dosa. Hal itu terjadi, karena selain tabiat kemanusiaannya, juga karena musuh-musuh manusia itu sangat banyak.
Diantaranya nafsu, yang selalu bersemayam ditubuh manusia dan kerap kali mengarahkan manusia kejalan yang buruk, sebagaimana yang Allah subhanahu wa Ta'ala firmankan:


وَمَا أُبَرٍّئُ نَفْسِي إِنَّ النِّفْسَ لأَ مَّارَةٌ بِا لسُّوءِ إِلاَّ مَارَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌرَّحِيم ٥٣

"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya mafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(Yusuf [12]:53).

Musuh Manusia lainnya adalah asy-syaithan ar-rajim (setan yang terkutuk). Dialah musuh abadi bagi manusia, yang terus berusaha merasuk kesetiap bagian tubuh manusia agar mereka terjerumus kedalam lembah kehancuran.


Demikin pula al-hawa, yang terus-menerus berusaha mencegah manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kemudian dunia dengan segala tipu daya dan pesonanya. Sementara orang yang ma'shum adalah mereka yang selalu dipelihara dan dilindungi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, mencegahnya dari kelalaian dan kelesuan dalam ketatanan,juga dari tindakan ceroboh disisi-Nya.
Karena itu, Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللهُ تَعَالَى بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللهَ فَيَغْفِرُلَهُمْ

"Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya! Jika kalian tidak berbuat dosa, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memusnahkan kaum kalian. Lalu mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka beristighfar atau meminta ampun kepada-Nya, dan Allah pun mengampuninya" (HR.Muslim).


Dalam hadits shahih lainnya, Nabi shalallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُالْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Setiap bani Adam potensial melakukan suatu dosa, dan sebaik-baik orang yang melakukan dosa adalah mereka yang segera bertobat" (HR.Tirmidzi).

Tetapi sayang saudaraku, masih ada masalah klasik yang perlu diperhatikan, yaitu masih banyak diantara mereka yang memiliki anggapan bahwa istighfar itu hanya sekedar ucapan lisan saja; seseorang yang melafalkan "astagfirullah', sama sekali tidak mendapatkan kebaikan sedikit pun dari kalimat tersebut, ia tidak mendapatkan hasil atau perubahan yang nyata dari tingkah laku-nya; atau orang yang mengucapkan istighfar hanya dusta belaka.

Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berujar, istighfar tanpa hengkang dari dosa adalah tobat para pendusta.
Sementara Syaikh Hasan bin Ahmad bin Hasan berkata, "Istighfar yang kita lakukan sangat membutuhkan  hal-hal berikut: ketahuilah bahwa istighfar orang yang tidak mampu meninggalkan maksiat, maka istighfar tersebut mat tergantung kepada istighfar yang lain. Karena itu, seseorang yang beristighfar hendaklah sungguh-sungguh, agar ia tidak termasuk kedalam kawanan para pendusta, yaitu orang-orang yang lisannya beristighfar, tapi mereka masih saja bergelimang dengan kemaksiatan, alias STMJ (Shalat Terus Maksiat Jalan).
Baca selengkapnya

Friday, 4 September 2015

Arti Istighfar

  Istighfaradalah bentuk mashdar dari kalimat istaghfara-yastaghfiru, berasal  dari kata ghafara, yang artinya 'menutup'. Maka istighfarr bermakna permohonan agar ditutup; ditutup dari kesalahan dan dosa,agar ditutup peluang untuk mengulanginya kembali,teguh dalam kebaikan dan kebenaran, dengan selalu melaksanakan perintah-Nya, dan selalu berjuang untuk mebjauhkan diri dari larangan-Nya tanpa harus dilarang.

  Imam ar-Raghib berujar: "Al-ghafaru" adalah pakaian yang dikenakan untuk melindungi pemakainya  dari kotoran (kesalahan dan dosa). Karena itu dikatakan, "ighfir tsaubaka fid-du'a" (Tutuplah pakaianmu, mintalah ampunan debgan berdoa). Al-ghufran atau Al-maghfirah (ampunan), hakikatnya adalah dari Allah, yaitu untuk melindungi hamba dari tersentuh azab.

       Istighfar adalah permohonan dengan ucapan dan perbuatan. Misalnya dikatakan "ighfiru hadzal amra bi maghfiratih" (Ya Allah ampunilah perkara ini dengan ampunan-Nya). Artinya, tutuplah dosa dengan sesuatu yang mesti ditutupi.

        Iman Al-Ghazali berpendapat: "Yang dimaksud dengan Al-Ghaffar (Maha Pengampun) adalah Dzat yang Mampu Menampakan yang indah dan Menurtupi yang buruk. Dosa adalah bagian dari sejumlah keburukan yang Allah tutupi dengan menyibakkan tirai penutup didunia, dan memaafkannya di akhirat, sehingga tidak tersiksa."

       "Al-Ghaffar adalah Dzat (Allah) yang mengampuni dosa hamba-Nya berkali-kali," ujar al-Khattabi tentang istighfar. "Ketika terjadi pengulangan tobat dari dosa, terulang pula ampunan-Nya. Maka al-Ghaffar adalah Dzat yang mampu menutupi dosa-dosa hamba-Nya, yang dilepas dengan pakaian kelembutan dan kesantunan-Nya. Sehingga perkara hamba tersebut tidak tersingkap dihadapan makhluk, dan tabirnya tidak terkoyak dengan siksa, sehingga makhluk pun tidak mengenal dan mengetahui aib mereka.
Baca selengkapnya