![]() |
| Image ; Islampos.com |
Diantaranya nafsu, yang selalu bersemayam ditubuh manusia dan kerap kali mengarahkan manusia kejalan yang buruk, sebagaimana yang Allah subhanahu wa Ta'ala firmankan:
وَمَا أُبَرٍّئُ نَفْسِي إِنَّ النِّفْسَ لأَ مَّارَةٌ بِا لسُّوءِ إِلاَّ مَارَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌرَّحِيم ٥٣
"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya mafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(Yusuf [12]:53).
Musuh Manusia lainnya adalah asy-syaithan ar-rajim (setan yang terkutuk). Dialah musuh abadi bagi manusia, yang terus berusaha merasuk kesetiap bagian tubuh manusia agar mereka terjerumus kedalam lembah kehancuran.
Demikin pula al-hawa, yang terus-menerus berusaha mencegah manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kemudian dunia dengan segala tipu daya dan pesonanya. Sementara orang yang ma'shum adalah mereka yang selalu dipelihara dan dilindungi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, mencegahnya dari kelalaian dan kelesuan dalam ketatanan,juga dari tindakan ceroboh disisi-Nya.
Karena itu, Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَذَهَبَ اللهُ تَعَالَى بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُوْنَ فَيَسْتَغْفِرُوْنَ اللهَ فَيَغْفِرُلَهُمْ
"Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya! Jika kalian tidak berbuat dosa, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memusnahkan kaum kalian. Lalu mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka beristighfar atau meminta ampun kepada-Nya, dan Allah pun mengampuninya" (HR.Muslim).
Dalam hadits shahih lainnya, Nabi shalallahu alaihi wa sallam juga bersabda:
كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُالْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Tetapi sayang saudaraku, masih ada masalah klasik yang perlu diperhatikan, yaitu masih banyak diantara mereka yang memiliki anggapan bahwa istighfar itu hanya sekedar ucapan lisan saja; seseorang yang melafalkan "astagfirullah', sama sekali tidak mendapatkan kebaikan sedikit pun dari kalimat tersebut, ia tidak mendapatkan hasil atau perubahan yang nyata dari tingkah laku-nya; atau orang yang mengucapkan istighfar hanya dusta belaka.
Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berujar, istighfar tanpa hengkang dari dosa adalah tobat para pendusta.
Sementara Syaikh Hasan bin Ahmad bin Hasan berkata, "Istighfar yang kita lakukan sangat membutuhkan hal-hal berikut: ketahuilah bahwa istighfar orang yang tidak mampu meninggalkan maksiat, maka istighfar tersebut mat tergantung kepada istighfar yang lain. Karena itu, seseorang yang beristighfar hendaklah sungguh-sungguh, agar ia tidak termasuk kedalam kawanan para pendusta, yaitu orang-orang yang lisannya beristighfar, tapi mereka masih saja bergelimang dengan kemaksiatan, alias STMJ (Shalat Terus Maksiat Jalan).
Bagikan
Hakikat Istighfar Dan Sebab-sebabnya
4/
5
Oleh
Rahmat

