Saturday, 12 September 2015

Beragam Pendapat Salafushshalihin Tentang Istighfar

Abu Musa radiyallahu'anhu berujar : "Ada dua hal yang dapat memberikan jaminan keamanan kepada kita dari siksa. Salah satunya telah pergi, yaitu keberadaan Rasulullah ditengah-tengah kita, dan yang tersisa adalah istighfar ditengah-tengah kita. Jika punah juga, maka binasalah kita" (Ihya' Ulumuddin, al-Ghazali, bab at-Taubah).

Imam Rabi'in bin Khutsaim berkata : "Merindukanlah kamu sekalian  kepada Rabbmu, dan berdoalah dikala kamu senang, karena Allah subhanahu wa Ta'ala berfirman (dalam hadits qudsi), 'Barang siapa yang berdoa kepada-Ku  dikala senang, maka Aku akan memberinya; barang siapa yang tawadhu' (rendah hati) kepada-Ku, maka akan mengangkat derajatnya; barang siapa yang memusatkan perhatian untuk-Ku, maka Aku akan mengasihinya; dan barang siapa yang memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya"(Minhajus-Shalihin, 159)

Imam Sahal pernah ditanya tentang hakikat istighfar yang dapat menghapuskan seluruh dosa. Ia menjawab. "Tahap pertama istighfar adalah al-istijabah, lalu al-inabah, kemudian at-taubah. Al-istijabah adalah amalan anggota tubuh, al-inabah adalah amalan hati, dan at-taubah adalah menghadapnya seseorang kepada Tuhannya (Allah), yaitu dengan cara meninggalkan makhluk. Kemudian ia beristighfar kepada Allah dari segala kekurangan yang ada pada dirinya" (Ihya Ulumuddin, al-Ghazali, bab at-taubah).

Hal yang sama juga dikatakan oleh Imam Ibnu Jauzi: "Iblis berkata, 'saya membinasakan bani Adam dengan dosa-dosa, dan mereka menghancurkanku dengan istighfar dan kalimat la ilaha illallah. Ketika aku perhatikan, mereka menjadi kokoh lantaran istighfar. Namun dalam diri mereka ada hawa nafsu, lalu mereka menyangka bahwa  mereka sudah melakukan suatu kebaikan" (Miftahu Daris Sa'adah karya Ibnu Qayyim).

Qatadah rahimahullah berkata : "Sesungguhnya al-Qur'an menunjukkan kepadamu perihal penyakitmu dan sekaligus obatnya untukmu; penyakitmu adalah kedosaan, sedang obatnya adalah istighfar".

Hal senada juga dikataka oleh imam ali karamallahu wajhah, sang menantu kesayangan rasulullah shalallahu alaihi wa sallam; "Ketahuilah bahwa ujub atau sikap membanggakan diri adalah yang menyebabkan  kehancuran bagi seseorang, tetepi ada sesuatu yang dapat menyelamatkan dari kehancuran itu." Kemudian seseorang yang ada didekatnya berujar, "Wahai Tuan, tolong jelaskan apa saja yang dapat menyelamatkan seseorang dari kehancuran?" Jawab Imam Ali: "istighfar kalian, karena itulah yang bisa menyelamatkan kalian dari kehancuran."
Pada bagian lain, ali karamallahu wajhah juga berkata : "Sungguh menherankan orang yang celaka itu, padahal ada hal yang bisa menyelamatkannya". Kemudian ia ditanya, 'apa itu?' jawabnya; 'istighfar'.

Sebagian ulama berujar: "Hamba itu berada diantara dosa dan nikmat, dan keduanya tidak akan bisa diperbaiki kecuali dengan al-Hamdulillah dan Istighfar" (at-Tadawa bil istighfar karya syaikh hasan ibnu hasan).
Diriwayatkan dari luqman alaihissalam, bahwa ia berwasiat kepada anaknya: "Duhai anakku, ketahuilah bahwa Allah mempunyai waktu-waktu dimana Dia tidak menolak orang yang meminta. maka perbanyaklah istighfar."

Diriwayatkan dari Aisyah r.a, ia berujar: "Berbahagialah orang yang didalam catatan amalnya ditemukan istighfar yang banyak."
Abu minhal juga berujar: "Tidak ada tetangga terbaik bagi seorang Mukmin didalam Quburnya kecuali istighfar."
Imam hasan al-Bashri pun berucap: "Perbanyaklah kalian istighfar dirumah-rumah kalian, ketika kalian makan, diperjalanan, dipasar, juga ketika kalain berada di majlis-majlis (ilmu), karena kalian tidak tau kapan ampunan Allah itu akan turun."
Imam Bakar Ibnu Abdullah al-Mazani berkata: "Wahai dikau yang bergelimang dosa, perbanyaklah istighfar, karena jika dalam buku catatan amal seseorang ditemukan istighfar ditengah-tengah halamannya, maka posisi itu ia akan menyenangkannya."

Sementara Ibnu Taimiyyah berujar: "Ketika pikiranku digayuti tentang suatu masalah yang gamang bagiku, maka aku beristighfar kepada Allah seribu kali sehinggan lapanglah dadaku. kemudian masalah pun terurai. Maka ketika aku berada dipasar, dimasjid, atau dimadrasah, hal itu tidak bisa mencegahku untuk berberdzikir dan istighfar, sampai aku mendapatkan apa yang kucari."

Bagikan

Jangan lewatkan

Beragam Pendapat Salafushshalihin Tentang Istighfar
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.