اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَإِلَهَ إِلاَّأَنْتَ, خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدِكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ, أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَاصَنَعْتُ, أَبٌوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُالذُّنُوْبَ إِلاَّأَنْتَ
Rasul Muhammad shalallahu alaihi wa sallam menyemakan nama doa tersebut dengan "Sayyidul Istighfar". Mengapa rasulullah memberikan nama demikian? Hal itu bisa dijelaskan sebagai berikut :
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ (Allahumma Anta Rabbi), adalah ikrar tauhid rububiyyah atau tauhid yang menegaskan dan menjelaskan bahwa Allah adalah rabb (tuhan) satu-satunya yang menciptat :
kan serta menjaga dunia dan seisinya.
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ (Allahumma Anta Rabbi), adalah ikrar tauhid rububiyyah atau tauhid yang menegaskan dan menjelaskan bahwa Allah adalah rabb (tuhan) satu-satunya yang menciptat :
kan serta menjaga dunia dan seisinya.
لاَإِلَهَ إِلاَّأَنْتَ (La ilaha illa Anta), Kalimat ini adalah ekspresi atau ikrar tauhid uluhiyyah bahwa allah lah satu-satunya ilah (Tuhan) yang wajib diibadahi, dan tidak ada ilah selain Allah Subhanahu wa ta'ala.
خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدِكَ (Khalaqtani wa ana abduka). Kalimat ini adalah ungkapan tulus seorang hamba perihal Siapa (Allah) yang menciptakan nya, seraya merunduk dan merebahkan jiwa raganya kepada Allah, serta bertawakkal hanya kepada Dia.
وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ (Wa ana ala ahdika mastatha'thu). Kalimat ini adalah ungkapan atau tekad bulat seorang hamba untuk selalu beriltizam atau berkomitmen terhadappetunjuk dalam meniti jalan yang lurus demi menggapai manhaj rabbani (panduan hidup ilahi). hal itu diupayakan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada, yaitu dengan cara bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّمَاصَنَعْتُ (A'udzu bika ming syarri ma shana'tu). Ucapan ini mengungkapkan permohonan perlindungan seorang hamba yang sungguh-sungguh kepada Allah , dari segala perbuatan yang buruk, dari segenap mara bahaya, dan dari rupa-rupa kemaksiatan yang memungkinkan dilakukan oleh seorang hamba.
أَبٌوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ (Abu'u laka bini'matika 'alayya). Kalimat ini mengekspresikan pengakuan seorang hamba atas segenap nikmat yang telah diberikan Allah kepadanaya. Hal ini diwujudkan dengan cara menerima segala nikmat yang diberikan Allah kepadanya, baik besar maupun kecil, banyak maupun sedikit, seraya dimanfaatknya kejalan dan tempat yang diridhai-Nya, karena ia sadar bahwa segenap anugrah tersebut kelak akan dihisab oleh-Nya; darimana harta itu didapat dan kemana harta tersebut dimanfaatkan
وَأَبُوْءُ بِذَنْبِي (Wa abu'u bidzanbi). Kalimat ini mengutarakan perihal kesadaran seorang hamba terhadap Rabb-nya, bahwa ia merasa sudah melakukan banyak dosa dan kekhilafan, baik disengaja maupun tidak.
فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُالذُّنُوْبَ إِلاَّأَنْتَ (Faggghfirli fa innahu la yaghfirudz-dzunuba illa Anta). Kata-kata ini adalah ungkapan tulus seorang hamba yang memohon ampunan kepada Allah, hanya kepada Dia semata dan tidak kepada yang lain. seraya merunduk dan bersimpuh dihadapan-Nya, karena tidak ada Ilah yang layak dimintai ampunan kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Saudaraku, dengan segenap makna dan kandunagn yang agung itulah, maka Rasul Muhammad membubuhkan nama terhadap istighfar tersebut dengan "Sayyidul Istighfar" (Penghulu istighfar atau istighfar terbaik).
Semoga kita termasuk hamba Allah yang sukses dan beruntung, yang hanya beribadah kepada-Nya dan meminta tolong kepada-Nya, iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Amin ya Mujibas-Sa'ilin.
Bagikan
Berhenti Sejenak Di Sayyidul Istighfar
4/
5
Oleh
Rahmat

